February 11, 2018

Penentuan Kelas UKT Mahasiswa - Pengalaman Pertama Ikut Conference International

Pada artikel ini saya hanya ingin sedikit cerita pengalaman mengikuti conference international pada bulan November tahun 2017 lalu. Saya mengikuti conference ini sebagai salah satu presenter setelah paper saya dinyatakan lulus untuk dipublikasi.

Paper yang presentasikan pada conference tersebut merupakan paper dengan topik data mining berjudul "Determining Single Tuition Fee of Higher Education in Indonesia: A Comparative Analysis of Data Mining Classification Algorithms". Sebuah paper yang membahas bagaimana cara mengklasifikasi kelas Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa berdasarkan kemampuan ekonomi dengan menggunakan machine learning. Ide dasar yang ada pada paper tersebut adalah bagaimana membuat system yang dapat menentukan beban biaya pendidikan berdasarkan kemampuan ekonomi secara otomatis berdasarkan penilaian komputer. Caranya adalah memberikan komputer pengetahuan agar dapat menilai kemampuan ekonomi mahasiswa berdasarkan data training hasil klasifikasi oleh manusia dengan feature seperti penghasilan orang tuanya, asal daerahnya, jumlah saudaranya dll. Kemampuan ini akan membantu kampus dalam menentukan kelas UKT mahasiswa secara otomatis sehingga dapat mengurangi beban kerja penetuan UKT yang biasanya dilakukan manual oleh panitia pendaftaran. Pada akhirnya, masalah penentuan UKT saya selesaikan dengan menggunakan pendekatan supervised learning dengan membanding akurasi beberapa metode seperti SVM, Decission Tree dan Naive bayes.

Paper tersebut sebenarnya berasal dari salah satu tugas mata kuliah yang saya ambil pada semester genap tahun ajaran 2016/2017, namun pada akhirnya dinilai layak untuk coba dipublikasikan oleh dosen pengampu mata kuliah. Setelah proses bimbingan mengenai penulisan naskah paper, akhirnya saya mengirim naskahnya pada salah satu conference international.

Pada awalnya saya sempat ragu paper itu akan diterima karna proses penulisannya yang sedikit dipercepat mengingat deadline yang ada saat itu. Namun, saat penguman saya sangat senang karna paper itu dinyatakan "accepted with mayor revision". Maksudnya adalah paper tersebut bisa saja diterima untuk dipublikasikan jika dapat direvisi sesuai dengan masukan dari reviewer yang ada, masukkannya ada banyak, makanya disebut "mayor revision". Revisinya tak tanggung-tanggung, cukup bikin galau karena harus mengubah cara evaluasi, tapi saya menyadari bahwa masukan dari reviewer tersebut adalah cara yang terbaik untuk mengevaluasi hasil klasifikasi yang saya kembangkan dan tuliskan pada paper. Pada akhirnya saya mendapat mengalaman dan masukan, sekaligus dapat menyelesaikan revisi dengan tepat waktu. Selanjutnya tinggal mempresentasikan paper pada tanggal yang telah ditentukan.


Presentasi saya jika boleh jujur sedikit kaku, mungkin karna itu adalah kali pertama saya mengikuti conference, khawatir jika ada pertanyaan dari audience yang tidak bisa saya jawab. Wajar saja mengingat audiencenya adalah kalangan akademisi dengan paper-paper yang keren menurut saya. Saya bahkan sampai tidak bisa mengatur irama pernafasan saat presentasi (sering terjadi klw sedang gugup) didepan mereka. Pada akhirnya saya mendapat cukup banyak pertanyaan yang menunjukkan bahwa audience cukup tertarik dengan materi saya karna alokasi penanya harus ditambah hingga 2 kali, semuanya bisa saya jawab dengan baik (insyaAllah).  

Dua bulan setelah presentasi akhirnya paper tersebut telah terbit dan terindeks pada IEEE: http://ieeexplore.ieee.org/document/8266041/. Harapannya ini menjadi awal yang baik untuk publikasi-publikasi selanjutnya.

Artikel Terkait

Penentuan Kelas UKT Mahasiswa - Pengalaman Pertama Ikut Conference International
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Tambahkan Komentar Anda